MENYERBU DENGAN AIR KEHIDUPAN MELALUI POMPA HIDROLIK

Snapshot_39

OLEH ; LETKOL CPL SIMON PETRUS KAMLASI

LATAR BELAKANG KEGIATAN POMPA

Semua bermula dari kunjungan kami ke kampung …  diAmanatun Selatan untuk mengikuti arisan keluarga Kamlasi, di mana lokasinya berada tidak jauh dari kampung kelahiran orang tua saya, Fautkolo yang lokasinya berada di Gunung Sunu.  Perjalanan yang kami tempuh tidaklah mudah karena kondisi medan jalan yang sangat rusak dan tidak adanya jembatan sehingga melengkapi  ditambah lagi cuaca yang mulai sering turun hujan membuat kami agak kesulitan menyeberangi sungai yang tanpa jembatan tersebut.  Jika curah hujan cukup banyak membuat debit air sungai meningkat dan membuat sulit untuk diseberangi.  Syukur kendaraan yang kami pakai OZ dengan ban yang cukup tinggi membuat kami tidak terlalu mengalami kesulitan melewatinya. Kami saksikan sendiri  selama perjalanan, ada bus yang terpaksa harus berhenti di tepi sungai menunggu sampai sungai  sedikit surut agar bisa dilewati dan selanjutnya di lain waktu kami pernah saksikan juga  ada bus yang terjebak dalam tanah yang licin sehingga sulit untuk membuat roda berputar, dan membuat  beberapa penumpangnya terpaksa harus turun dan berjalan kaki.  Demikianlah perjuangan perjalanan kami yang akhirnya dengan rasa syukur kami tiba juga dengan selamat di tempat arisan dan akhirnya bermalam di kampung Fautkolo.

Di tempat arisan inilah, istri saya sangat terkejut kagum melihat anak-anak perempuan mengambil air dengan cara menjunjung dirigen air di kepala sambil di kedua belah tangannya juga membawa dirigen air. Baginya sungguh keahlian yang luar biasa karena  anak-anak itu dapat melakukannya dengan santai, lihai tanpa melakukan kesalahan. Pemandangan ini membuat istri terus bertanya  dan terus menjadi pembahasannya dengan saya di kemudian hari dan rasa penasarannya terus berkembang ketika istri akan buang air kecil, dia tidak menemukan air di kondisi kamar kecil yang sangat tidak layak. Akhirnya sedikit demi sedikit saya menjelaskan ke istri saya kondisi NTT yang memang kesulitan air, di mana air ada namun letaknya sulit dan jauh dari rumah-rumah penduduk.

Selanjutnya saya dan istri saya terlibat pembicaraan yang serius untuk membahas solusi masalah air untuk menolong mereka.  Istri pun berkonsultasi dengan seseorang yang bernama Pak Herman yang ternyata memberikan jawaban lewat pompa Hidrolik Ram, yang mana akhirnya diteruskan kepada saya dan membuat saya langsung melakukan riset untuk membuatnya berdasarkan keterangan dari istri yang sederhana bahwa pompa itu berfungsi lewat hukum Pascal. Istri saya menanyakan apa saya dapat membuat pompa dengan hukum Pascal tersebut.  Saya pun menyanggupi.

Kemudian kami mulai melakukan survey keadaan Timor Tengah Selatan walau tidak semua tempat, untuk melihat apa yang kita bisa lakukan untuk mengatasi kesulitan masyarakat di sana, dan kami simpulkan beberapa point ; mereka memerlukan pompa hidrolik untuk mengangkat air dekat ke rumah-rumah mereka, mereka perlu penerangan namun ada dari mereka  yang rata-rata hidup di bawah rata-rata sehingga tidak mampu membeli lampu solar dan mereka butuh perbaikan jalan-jalan/jembatan yang rusak agar roda ekonomi  dari desa ke kota atau antar desa dapat berjalan lancar. Sulit dibayangkan rasanya ketika mereka hidup bertahan dalam kemiskinan dan kesulitan air pula dengan kondisi  lebih dari 10 tahun tanpa perubahan sama sekali,  sejak saya kecil sampai saat ini. Sungguh memiriskan.

Berangkat dari rasa keprihatinan terhadap sesama, maka kami mencoba menggalang dana melalui Page Facebook yang kami buat tanggal 22 Maret 2014 untuk menolong mereka.  Dengan susah payah kami coba menghubungi beberapa teman dekat  saya dan istri untuk  mengumpulkan dana dan juga mengajukan proposal. Dan kami akhirnya dapat mengumpulkan  dana sedikit demi sedikit yang mana setelah kami terima langsung kami salurkan ke mereka. Walau dana yang masuk tidak sepadan tetapi kami tetap kerjakan dan setiap kekurangan yang ada menjadi tanggung jawab kami termasuk orang tua saya untuk menutupinya demi rasa kemanusiaan. Dan kami memulainya pertama kali di desa Sunu, desa kelahiran bapak saya.

KEGIATAN-KEGIATAN SOSIAL KAMI

  1. Desa Sunu, 17 – 18 Mei 2014, 25Mei 2014, Amanatun Selatan, TTS.

Gambar-gambar ini adalah kegiatan sosial pertama kali yang kami lakukan setelah sumbangan diterima.
Kami datang ke desa Sunu di kecamatan Amanatun Selatan Kabupaten Timor Tengah Selatan.
Kami membawa beberapa bahan-bahan berat untuk pemasangan pompa Hidrolik Ram dan truk 4×4 melewati sekelompok masyarakat yang sedang memperbaiki beberapa jalan yang rusak.
Hal ini tentu saja sangat menolong kami untuk memperlancar perjalanan kami ke tempat sasaran. Dan kami tiba di tempat sasaran dengan selamat.Tolong ikut kegiatan kami selanjutnya di status berikutnya. Terima kasih.(17Mei)

Pekerjaan dimulai dengan doa bersama. Setelah doa dibahas terlebih dahulu tempat dimana akan dipasang pompa termasuk posisi bak tampungan awal. Penduduk sekitar otomatis berdatangan untuk gotong royong membersihkan lokasi.Penyatuan bagian pompa dan penyiapan pipanisasi. Pipa PE diulur dengan cara digantung pada sebuah kayu antara pohon-pohon. (18Mei)

Salah satu bagian terpenting yang harus dipastikan berfungsi adalah penyaluran air lewat tiga pipa dari mata air menuju ke bak pengirim sebelum dikirim ke Pompa. Partisipasi masyarakat sangat banyak termasuk Kepala Desa Sunu juga hadir mendampingi warganya. Dengan penuh sukacita pekerjaan pemasangan pompa hari itu dapat diselesaikan kecuali pengecoran bak pengirim dan kami kembali ke Soe sambil menunggu konstruksi beton yang baru dikerjakan siap untuk digunakan. Rencananya penyelesaian bak pengirim akan dilaksanakan besok oleh warga dipimpin Kepala Desa Sunu.(21Mei)

Kami berangkat subuh-subuh dari Soe dan tiba di desa Sunu sekitar jam 08.00 pagi. Kami disambut baik oleh warga desa Sunu. Kami membawa 1 rol pipa PE lagi dengan pemikiran bahwa dapat mencapai ke bak penampungan air utama (bak induk) yang berjarak 600 meter. Para warga desa membantu kami menurunkan pipa dari atas mobil.
Kemudian kami berkumpul sejenak mendiskusikan bahwa kami akan menarik ulang gulungan pipa PE yang kemarin untuk mencari jalan pintas terdekat menuju bak penampungan air utama yang mana harus berada di dataran tertinggi. Karena dari bak penampungan air utama inilah, air akan disebarkan melalui 2 pipa utama : 1 pipa utama menyebarkan air ke Nunbena dan Feungkolen dan pipa utama satunya lagi untuk daerah Fatukolo dan Fatutae.

Selanjutnya pipa digelar secara estafet menuju ke atas dan disambung dengan roll kedua karena jarak yang diperlukan adalah sekitar 1 km menuju reservoir yang direncanakan. Akhirnya air dapat mencapai ujung pipa. Yang menyaksikan keluarnya air di ujung pipa adalah Kepala Desa Sunu, Camat Amanatun Selatan, Danramil Ayotupas dan tokoh masyarakat serta penduduk sekitarnya, pada ketinggian 200 meter lebih tinggi dari mata air pada jarak tempuh 500 meter. Sukacita mewarnai suasana tersebut.

Serangkaian gambar dari upacara adat seperti pemberian sirih pinang dan pengalungan selendang Timor, berdoa bergandengan tangan bersama di dekat sumber air dan terakhir pembukaan peresmian pompa air yang dinyatakan oleh Bapak Moses Kamlasi sebagai pemilik sejarah mata air dan juga sebagai wakil DPR. (24Mei)

Perlahan tapi pasti. Dengan pertolongan Tuhan, kami menambahkan pompa hidrolik ram yang kedua di desa Sunu dan menambah 1 roll pipa PE lagi untuk mencapai bak induk yang berlokasi di Tunliu sekitar 1 km dari sumber air, Oemenu. Jadi sekarang butuh 250 meter lagi. Tetap semangat, teman-teman.

Di Desa Sunu Kecamatan Amanatun Selatan Kab,TTS pada jarak 750m ketinggian di atas 100m dr pump. (20Jun 2014)

 

Kegiatan di bak transit bukan saja urusan pekerjaan laki-laki tetapi juga melibatkan kerja sama dengan para perempuan dan anak-anak mereka. Mereka membuat suatu tim kerja yang baik tanpa melihat perbedaan gender dan usia. Selama orang itu sanggup melakukannya, maka dikerjakan

Di bawah ini beberapa gambar bagaimana para perempuan mengisi karung mereka dengan tanah merah dan kemudian menjunjungnya sampai ke lokasi bak transit.
Benar-benar pekerjaan yang berat dan tangguh untuk para perempuan dan anak-anak. Tetapi mereka melakukan dengan senang hati karena mereka tahu bahwa ini semua dilakukan demi kebaikan mereka. (26Juli 2014)

  1. Desa Basmuti, Amanuban (22 Agustus 2014)

Pompa

Perjalanan kemanusiaan ke desa Basmuti.
Kami berangkat dari Kupang jam 05.00 pagi dan sarapan dekat sungai di sebuah daerah di mana anak-anak biasanya menyebutnya dengan tebing “Kue Ulang Tahun”. Setelah sarapan, kami langsung melanjutkan perjalanan kami kembali. Kemudian sampai Batu Putih, kami berhenti sejenak untuk memuat 1 pipa besar lagi. Sungguh perjalanan yang berat karena harus melalui jalan-jalan yang buruk, tebing yang curam, masuk kampung keluar kampung, masuk sungai keluar sungai, menyusuri pinggiran sungai, seberangi sungai dan di ujung sungai, kendaraan kami mendaki bukit menuju desa Basmuti, kecamatan Kuanfatu, Amanuban Selatan. Dan di sana, kedatangan kami disambut oleh 2 RT dengan penerimaan secara adat dan ditutup dengan makan pagi bersama, sebelum memulai tugas kami.

Hari Pertama adalah hari kedatangan kami sekaligus hari kerja kami untuk kegiatan di desa Basmuti, kecamatan Kuanfatu, Amanuban Selatan.
Kami mengeluarkan semua barang-barang, memutuskan sumber air yang terbaik dengan debit air yang diinginkan, membuat bak air untuk menampung air dari sumber mata air, memasang pipa-pipa yang memang sudah ada dan membangun tiang-tiang penyanggahnya dan mencari lokasi yang baik untuk pemasangan pompa. Semua dilakukan dengan kerjasama bersama para penduduk desa, walau sedikit lambat membangkitkan semangat penduduk tetapi demi kebaikan mereka sendiri, mereka akhirnya berpartisipasi.
Setelah kami menentukan sumber mata air yang terbaik, kami berdoa bersama sebelum kita mulai bekerja.

Serangkaian gambar dari kegiatan-kegiatan selanjutnya di hari pertama. Kami mengakhiri hari pertama ini kira-kira jam 19.00.

Pada hari ketiga, kegiatan lebih kepada sentuhan terakhir. Selesai ibadah gereja, para penduduk desa sedikit demi sedikit kembali datang untuk berpartisipasi menyelesaikan sisa pekerjaan selanjutnya. Mereka menjadi lebih bersatu dan semangat dalam menyelesaikan pekerjaan.

Sentuhan akhir hampir selesai. Sementara beberapa orang mempersiapkan pemasangan pompa. Kami kecuali tekhnisi penolong diundang untuk berkumpul di sumber air untuk berdoa dan tutur sejenak yang diumumkan oleh Ibu Nope sebagai pemilik sejarah air. Ibu ini masih keturunan leluhur Raja Nope. Jadi ibu inilah yang akan menginjakkan kakinya di pompa untuk mengalirkan air.
Peresmian air berjalan dengan baik dan semua orang bertepuk tangan. Walaupun aliran air tidak sesuai standar karena debit air yang masuk ke dalam bak penampungan masih terlalu sedikit. Mereka tetap bahagia. Masyarakat akan mencari jalan keluar untuk meningkatkan debit air agar aliran air deras.

Pada hari ketiga, kegiatan lebih kepada sentuhan terakhir. Selesai ibadah gereja, para penduduk desa sedikit demi sedikit kembali datang untuk berpartisipasi menyelesaikan sisa pekerjaan selanjutnya. Mereka menjadi lebih bersatu dan semangat dalam menyelesaikan pekerjaan.

Kelor

Pada tanggal 10 Sep 2014. Kami kembali ke desa Basmuti untuk memperkenalkan potensi dari pohon Marungga atau yang lebih dikenal dengan nama Kelor. Hal ini perlu diperkenalkan ke warga desa Basmuti karena tanah Basmuti memiliki potensi yang baik untuk perkembang-biakkan budi daya Kelor.
Sejauh ini, pohon Kelor tumbuh liar dan subur tanpa orang tahu persis mengenai keuntungan dari pohon ajaib ini. Para warga desa hanya mengambil daunnya untuk dimakan, sementara sebenarnya seluruh bagian dari pohon tersebut berkhasiat.
Jadi kami ke sana dan memberikan presentasi singkat, sebuah pengetahuan mengenai pohon ajaib (nama lain sebutan untuk pohon ini) untuk membuka pikiran mereka agar mulai menanam pohon ini, pohon yang mungkin dapat memperbaiki taraf hidup mereka kelak.
Di akhir presentasi, kami mengundang para warga desa untuk ikut ke pameran Kelor yang diselenggarakan oleh TNI/Kodim TTU di Kefamenanu. Kami akan memfasilitasi para warga desa dan mengemasnya dalam bentuk ‘Tur Kelor’.

  1. Desa Mamsena, TTU

Kami sedang menjajaki perluasan kegiatan ke Timor Tengah Utara tepatnya di daerah perbatasan RI-Oekusi, RDTL dan beberapa daerah kosong karena kekurangan air. Kami akan bekerja sama dengan TNI yang menjaga perbatasan membantu masyarakat kedua belah pihak. Rencananya sumber mata air yang ada akan dinaikkan dgn Pompa Ram Hidrolik ke pemukiman dan ke lahan pertanian. Berabad-abad masyarakat Mamsena Timor Tengah Utara harus menimba air jauh dari atas gunung menuju sungai, pada saat musim panas. Lahan yang luas tidak dapat diolah untuk menghasilkan bahan makanan, namun akhirnya dengan kerja keras semua pihak, baik TNI maupun masyarakat, maka pada hari Kamis tgl 9 Oktober 2014 air telah membasahi puncak tertinggi disaksikan oleh unsur pimpinan Kabupaten Timor Tengah Utara dan siap disebarkan ke lahan dan pemukiman masyarakat. Mudah-mudahan dalam waktu dekat dapat terbangun sebuah bak besar untuk disalurkan kemanapun sesuai kebutuhan. Tuhan selalu membuka jalan bagi kita yang mau bekerja keras.Amin.

  1. Desa Bisene, Molo

Sambil mengerjakan instalasi air di Mamsena, Tim GLFTI menyempatkan diri memasang Pompa Air di daerah Bisene, Kecamatan Mollo Selatan Kabupaten Timor Tengah Selatan.
Tua Muda, Laki-laki Perempuan serta anak-anak berpartisipasi dalam kegiatan pemasangan Pompa Ram Hidrolik. Suasana sukacita menyelimuti mereka yang sebenarnya meragukan bahwa air akan sampai di atas ketinggian, karena sudah dua fasilitator sebelumnya gagal menaikkan air ke kampung mereka. Besok malamnya setelah kembali dari Mamsena TTU, maka Tim GLFTI menyelesaikan pemasangan air dan air berhasil sampai di ketinggian dengan jarak 350 meter. Puji Tuhan Di desa Bisene, Mollo Selatan.

Air sukses mencapai lebih dekat ke perumahan warga. Kemudian mereka akan berpartisipasi (urunan) untuk membangun bak air utama di tempat ketinggian, guna menyebarkan air ke semua daerah di Dusun 1. Melihat bukti ini baik adanya, Dusun 2 mengajukan permohonan agar kami menolong mereka juga. Puji Tuhan jika kita dapat membahagiakan mereka semua ! Semua ada waktunya. Amin.

Pekerjaan di Bisene cukup ringan dan tidak terlalu makan biaya karena Kepala Desa bersama warganya telah mempersiapkan beberapa pipa lama dan bak-bak air lama dari proyek sebelumnya yang gagal, agar difungsikan untuk mendukung pemasangan pompa. Semoga dusun 2 dapat melakukan hal yang sama seperti yang disiapkan oleh dusun 1.

  1. Desa Oelali, TTS 09 November 2014

Pada tanggal 09 November 2014, kami pergi ke desa Oelali di Manufui untuk menghantarkan pompa hidrolik ram yang dipersembahkan untuk masyarakat desa di sana. Pompa ini adalah sumbangan dari bapak Yuliarto.
Selain itu kedatangan kami untuk melihat setengah konstruksi pemasangan yang tengah dikerjakan oleh wakil dari tim kami, para babinsa bersama dengan para penduduk desa.
Mereka bekerja bersama-sama membangun pemasangan pompa. Mereka terdiri dari para orang tua, anak-anak muda dan anak-anak kecil, laki-laki dan perempuan, siang dan malam.
Jadi ketika kami datang dengan pompa, mereka sudah dapat langsung memasangnya sebagai akhir dari pekerjaan.
Sungguh pemandangan yang luar biasa melihat mereka semua bekerja dengan penuh semangat. Mereka tahu bahwa kerja keras mereka akan membuahkah hasil yang sangat menguntungkan mereka, air akan semakin dekat mencapai pemukiman mereka.
Setelah beberapa pengecekkan, kami disambut oleh warga desa secara adat bagi para tamu yang datang. Mereka memberikan selendang tenun dan kata sambutan dalam bahasa Dawan disebut ‘Natoni’. Sesudah ini, kami harus pergi ke desa selanjutnya, desa Oelam, masih di wilayah Manufui, untuk memenuhi undangan mereka agar kami datang melihat apa yang kami bisa bantu untuk menolong mereka juga dalam masalah air.
Kunjungan kami ke desa Oelam akan kami posting di status berikutnya.

  1. Desa Oelam, 09 November 2014.

Dari Oelali, kami segera menuju Oelam, lokasinya tidak begitu jauh. Ketika kami tiba di sana, kami mendapatkan para warga desa sudah menunggu kedatangan kami. Kami tiba di sana sekitar pukul 08.00 malam.
Kami kembali disambut secara adat dan natoni dari tokoh masyarakat dan tokoh adat di sana. Setelah natoni dalam bahasa dawan, kemudian tokoh masyarakat setempat berbicara dalam bahasa Indonesia sedikit yang membuat saya mengerti.
Kata-katanya yang sederhana hampir membuat saya menangis terharu.

Pesannya sederhana bahwa dia sangat bangga mendapatkan masih ada orang Timor yang peduli dengan kampung halamannya dan bersedia membangun kampungnya sendiri. Dia senang karena di usianya yang sudah tidak muda lagi, dia memiliki berkat-Nya untuk menikmati sisa hidupnya merasakan air lebih mudah dari sebelumnya. Dia seorang yang beruntung karena dia dapat menikmati kenyamanan ini sementara teman-temannya belum pernah menikmati kesempatan ini sampai akhir hayat hidup mereka.

Di akhir acara, kami memberikan pompa ram hidrolik kepada tokoh masyarakat setempat dan memberikan penyuluhan kepada mereka sejenak agar mereka dapat memulai bekerja yang nanti akan dibantu oleh para babinsa dan perwakilan dari tim kami.
Mereka semua bahagia dan akan bekerja sebagai satu tim yang besar untuk mencapai mimpi mereka, mendapatkan air lebih dekat dan lebih mudah kepada mereka. Terpujilah Tuhan !

One comment on “MENYERBU DENGAN AIR KEHIDUPAN MELALUI POMPA HIDROLIK

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *